Eboni, Si Kayu Hitam Langka Asli Sulawesi

eboni-si-kayu-hitam-min
google.com

Bernostalgia di masa saat kamu masih kecil dulu, mungkin saja orang tuamu pernah memutarkan sebuah lagu milik Paul McCartney dan Stevie Wonder yang berjudul Ebony and Ivory dengan penggalan lirik “Ebony and ivory live together in perfect harmony Side by side on my piano keyboard, oh lord, why don’t we?” Jika diterjemahkan artinya kurang lebih seperti ini, “Ebony dan gading hidup bersama dalam harmoni sempurna berdampingan di keyboard piano saya, oh Tuhan, mengapa kita tidak?”

Ternyata ebony yang dimaksud dalam lagu tersebut adalah kayu eboni yang merupakan kayu hitam dari Sulawesi, Indonesia.
Kayu Eboni sendiri memang sering digunakan sebagai bahan baku pembuatan alat musik seperti piano dan biola.

Merujuk ke sejarah piano, pada awalnya tuts putih piano dibuat dengan menggunakan bahan ivory (gading gajah), sedangkan untuk tuts hitam, menggunakan bahan ebony (kayu hitam). 
Seiring berjalannya waktu, karena produksi ivory mengancam populasi gajah, dan kayu hitam keberadaannya sangat langka, maka diganti oleh material yang berbahan dasar plastik ivorite dan ebonite

Hal ini tentunya sangat menarik, mengingat Indonesia dengan segala keindahannya, merupakan negara tropis yang dipenuhi dengan beragam varietas kayu unggul yang salah satunya adalah kayu eboni atau jenis kayu hitam yang berasal dari Sulawesi, tepatnya daerah Makassar.

Yuk, kenali asal usul dan fakta unik dari kayu langka dan mahal satu ini!

Asal Usul Kayu Eboni

asal-usul-eboni-min
google.com

Kayu Eboni tercatat sebagai kayu fenomenal dalam sejarah dunia, peradaban kuno di Mesir-Egypt memanfaatkan kayu Ebony sebagai bahan pembuat Patung Dewa-Dewa, Raja-Raja India secara turun temurun mempercayakan Gelas yang terbuat dari kayu Ebony sebagai Penetralisir Racun, di Jepang kayu Ebony telah digunakan sejak lama sebagai Gagang Pedang Samurai, di Indonesia sendiri kayu Hitam diolah menjadi bermacam bentuk barang dimana keberadaan Ebony dipercaya dapat menangkal Roh Jahat dan sebagai Simbol Perlindungan, Keberuntungan, Kekuatan, Kemurnian, dan keseimbangan. 

Dikenal juga dengan istilah latin (Diospyros celebica), Kayu Eboni berasal dari pohon endemik dari daerah Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Pohon Eboni memiliki tinggi hingga 40 meter dengan diameter batang kayu mencapai 1 meter. Kayu Eboni memiliki ciri-ciri tertentu diantaranya : berwarna coklat gelap, agak kehitaman, bertekstur halus dengan arah serat kayu yang lurus atau sedikit berpadu serta permukaan kayu yang licin. Penggunaan dari kayu eboni untuk membuat tiang jembatan, perabot rumah tangga, patung, alat musik, dan ukiran (Kurniawan dan Bayu, 2010).

Eboni dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah seperti tanah berkapur, tanah berpasir, tanah liat, dan  tanah berbatu yang tidak tergenang air. Ketinggian tempat tumbuh eboni dari 50 – 400 meter di atas permukaan laut, apabila ditanam pada ketinggian di atas 600 meter maka pertumbuhannya akan kurang baik. Sumber lain juga menjelaskan bahwa curah hujan yang berkisar 2000 – 2500 mm/tahun merupakan curah hujan yang baik dalam mendukung pertumbuhan pohon eboni. Akan tetapi, Pohon eboni masih dapat ditanam pada daerah kering dengan curah hujan 1230 mm/tahun, daerah bermusim dengan curah hujan 700 mm/tahun, dan daerah paling basah dengan curah hujan 2400- 2750 mm/tahun.

Cincin Pertumbuhan Kayu Eboni

cincin-kayu-min
google.com

Merupakan lingkaran tumbuh yang terlihat seperti gambar pola-pola konsentrik pada penampang melintang kayu. Terbentuknya cincin pertumbuhan kayu ini adalah karena terjadinya perbedaan musim yang dialami oleh pohon tersebut.
Di daerah beriklim sedang, periode pertumbuhan biasanya satu tahun, dalam hal ini cincin pertumbuhan dapat disebut “cincin tahunan”.

Di daerah tropis, lingkaran pertumbuhan mungkin tidak terlihat atau tidak tahunan. Bahkan di daerah beriklim sedang, cincin pertumbuhan kadang-kadang hilang, dan cincin kedua, atau “palsu”, dapat disimpan selama satu tahun misalnya, setelah penggundulan serangga. Cincin pertumbuhan berbeda jika sel konduksi yang diproduksi pada awal periode pertumbuhan lebih besar (musim semi, atau awal, kayu) daripada yang diproduksi kemudian (musim panas, atau akhir, kayu) atau jika pertumbuhan dihentikan oleh lapisan serat berdinding tebal atau oleh parenkim. Di iklim sedang atau dingin usia pohon dapat ditentukan dengan menghitung jumlah lingkaran tahunan di pangkal batang atau, jika batangnya berlubang, di pangkal akar yang besar. Cincin tahunan telah digunakan untuk menentukan umur struktur kayu kuno, terutama yang dimiliki Indian Amerika di wilayah barat daya Amerika Serikat yang kering; fluktuasi lebar cincin merupakan sumber informasi tentang iklim kuno.

Karakteristik Kayu Eboni Secara Kimia

Karakteristik-Kayu-Eboni-min
google.com

Kayu teras eboni memiliki corak berupa garis-garis (strip) hitam berseling dengan strip kecoklatan. Berdasarkan corak strip tersebut, eboni di Sulawesi Tengah dikelompokkan menjadi dua pola strip yaitu eboni SL dan eboni batang macis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola strip tersebut dan arah radial dalam batang terhadap kadar holoselulosa, selulosa, lignin, ekstraktif, abu dan nilai pH. Rerata kadar holoselulosa, selulosa, lignin, ekstraktif etanol-tolueno, ekstraktif terlarut air panas, abu dan nilai pH kayu eboni berturut-turut yaitu 76,59±3,02%, 50,62±4,86%, 26,72±3,05%, 9,71±2,97%, 13,54±1,43%, 0,97±0,32% dan 5,56±0,39. Berdasarkan uji-t, kadar holoselulosa, selulosa dan ekstraktif terlarut air panas berbeda nyata antar pola strip. Analisis ragam menunjukkan bahwa arah radial batang juga berpengaruh sangat nyata terhadap sifat kimia. Kadar holoselulosa, selulosa, lignin, ekstraktif etanol-toluena dan abu berbeda nyata antara kayu gubal, intermediate dan teras. Kayu teras memiliki kadar selulosa, lignin, ekstraktif etanol-toluena dan abu tertinggi dibanding posisi lainnya. Sementara itu, kadar selulosa, lignin, abu, dan nilai pH paling rendah terdapat pada kayu intermediate

Habitat Pertumbuhan Kayu Eboni

tempat-tumbuh-eboni-min
google.com

1. Tempat Tumbuh 

Secara alami tegakan Kayu Eboni dijumpai di punggung-punggung bukit dataran rendah hingga ketinggian tempat 700 m dari permukaan laut. Namun dari hasil pengamatan dari peneliti, menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman eboni khususnya untuk pohon Diospyros Celebica pada ketinggian tempat di atas 400 m dpi kurang begitu baik. Berdasarkan pada kenyataan tersebut di atas untuk keperluan budidaya tanaman maka ketinggian tempat maksimum adalah 400 m dpi. Iklim memperhatikan pada penyebaran alamnya ternyata tegakan eboni ada yang tumbuh di hutan tropis basah dan ada pula yang tumbuh di daerah hutan monsoon. Tegakan eboni yang tumbuh di daerah hutan tropika humida memiliki iklim basah (tipe hujan A – D) dengan rata-rata curah hujan tahunan 2737 mm per tahun (Malili, Mamuju, Poso) dan yang tumbuh di daerah hutan monsoon beriklim musim (tipe hujan C) dengan rata-rata curah hujan tahunan 1709 mm per tahun (Parigi). Dari hasil percobaan penanaman di Jawa pada iklim musim (Cikampek) dan iklim basah (Bogor, Pasir Awi) menunjukkan tidak adanya perbedaan pertumbuhan. Kesimpulannya, selang iklim untuk keperluan budidaya tanaman eboni adalah tipe iklim basah hingga iklim musim (tipe hujan A – C).

2. Kebutuhan Cahaya dan Suhu

Berdasarkan hasil penelitian, regenerasi hutan yang dilakukan di kelompok hutan alam eboni di Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa habitat yang terlalu terbuka dan penyinaran yang terlalu kuat tidak baik untuk perkembangan dan pertumbuhan anakan eboni. Begitu pula pada daerah dengan naungan berat (kurang cahaya), rata-rata anakan eboni banyak yang mati. Sedang anakan yang berada pada naungan ringan menunjukkan pertumbuhan yang baik, namun demikian setelah anakan mencapai tingkat sapling secara bertahap, naungan harus dibuka dan harus sudah mendapat cahaya penuh agar pertumbuhannya cepat. Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas pohon eboni tergolong jenis pohon semi toleran terhadap cahaya. Rata-rata suhu udara yang dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman eboni berkisar 22° – 28°C. Suhu udara maksimum pada musim kemarau berkisar 21,5° – 30°C dan suhu udara minimum pada musim hujan berkisar 22° – 26°C.

Pengadaan Bibit Eboni

1. Mengumpulkan Buah Dan Biji

Pohon eboni khususnya Diospyros Celebica mulai berbunga dan berbuah umur 5-7 tahun. Musim berbunga jatuh pada bulan Maret – April dan berbuah masak pada bulan September – November. Hal ini hampir serupa dengan tempat asalnya di Sulawesi (Poso). Di daerah ini dilaporkan musim buah masak pada bulan September – Oktober, dan musim berbunga diperkirakan pada bulan Maret – April. Pengumpulan buah masak sebaiknya dilakukan di atas pohon, karena buah yang dikumpulkan dari lantai hutan mudah rusak akibat diserang jamur Penicilliopsis Clavaria Reformis. Ciri-ciri buah masak adalah kulit buah berwarna merah kuning atau warna sawo, berbulu dan bijinya berwarna coklat tua. Buah yang sudah terkumpul segera diangkut ke tempat pembibitan dan bijinya segera diekstraksi di tempat tersebut. Banyaknya biji per kg adalah 1100 biji. Kualitas Biji Seleksi biji baru didasarkan pada rusak tidaknya biji tersebut. Biji baru umumnya memiliki daya kecambah tinggi sekitar 85%. Biji cepat turun daya kecambahnya bila dibiarkan pada tempat terbuka. Biji yang dijemur selama 3 hari daya kecambahnya turun menjadi 0%. Untuk mempertahankan daya kecambah biji maka dalam penyimpanan biji dicampur dengan arang basah dengan perbandingan 1:1. Dengan cara demikian daya kecambah biji dapat dipertahankan 70% untuk jangka 12 hari. Berkenaan dengan hal tersebut di atas dalam rangka pembuatan bibit eboni perlu adanya pengaturan yang matang antara waktu pengumpulan biji dan kesiapan pembibitan, agar diperoleh jumlah bibit yang banyak sesuai dengan yang diharapkan.

2. Cara Membuat Bibit

Bibit semai Pohon Eboni termasuk jenis pohon semi toleran maka tempat persemaiannya harus dibuat di tempat yang agak teduh. Biji baru harus segera disemaikan langsung ke wadah atau kantong plastik yang sudah diisi media tumbuh. Setelah bibit berumur 8-1 0 bulan dengan tinggi bibit ±25-3 0 cm sudah cukup kuat ditanam di lapangan. Kalau pembuatan bibit menggunakan anakan alam maka pengumpulannya dilakukan dengan cara cabutan. Tinggi anakan yang dikumpulkan untuk dijadikan bibit maksimal 15 cm. Bibit tersebut sebelum ditanam di lapangan harus disapih terlebih dahulu di persemaian selama ±4- 5 bulan. Bibit stump digunakan dalam keadaan darurat misalnya bibit yang akan ditanam di lapangan sudah terlalu tinggi, sehingga menyulitkan dalam angkutannya ke lapangan. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ukuran stump yang paling baik berdiameter 0,5 – 1 cm, jika dipersenkan menjadi sekitar 50 – 70%.

3. Teknik Penanaman Eboni

Untuk keperluan penanaman sebaiknya dikembangkan jenis pohon eboni yang memiliki status silvikultur yang memadai dan kayunya tergolong komersial tinggi di samping benihnya mudah diperoleh. Di antara tujuh jenis pohon eboni yang ada di Indonesia, Diospyros Celebica yang memenuhi syarat untuk dikembangkan sesuai dengan kriteria di atas. Persiapan lahan untuk keperluan penanaman pohon eboni tergantung pada kondisi lahannya. Pada areal yang terbuka seperti tanah kosong atau padang alang-alang dilakukan pembersihan lahan secara total. Sedangkan pada areal belukar atau tegakan tinggal bekas pembalakan, penyiapan lahan dilakukan dalam bentuk jalur-jalur yang lebarnya 1 – 2 m. Penanaman di areal terbuka harus didahului dengan penanaman pohon peteduh. Penanaman pohon eboni dilakukan setelah tanaman peneduh yang memadai untuk digunakan sebagai naungan. Jarak tanam pohon peneduh digunakan 3 x 1,5 m atau 2,5 x 2,5 m dan jarak tanam pohon eboni 5 x 5 m atau 3 x 3 m. Setelah pohon eboni mencapai tingkat sapling maka pohon peneduh harus dibuang secara bertahap. Pengendalian gulma dilakukan empat kali; dalam tahun pertama dua kali setahun, dalam tahun kedua dan ketiga masing-masing satu kali. Untuk tanaman dalam jalur pemeliharaan dilakukan sampai tahun kelima. Penjarangan tegakan pertama dilakukan setelah tajuk bersinggungan dan intervalnya setiap 10 tahun sekali.


Kayu Eboni memang memiliki banyak cerita yang menarik untuk dibahas, selain dari segi pembudidayaannya, Kayu Eboni juga menyimpan fakta unik yang beredar di masyarakat, khususnya bagi masyarakat Sulawesi lho! Mereka memiliki kepercayaan bahwa Kayu Eboni merupakan simbol perlindungan, keberuntungan, kekuatan, kemurnian dan keseimbangan hidup. 

Meskipun kamu bukan bagian dari masyarakat yang mempercayai hal tersebut, tentu wajib untuk kita dapat saling menghargai dan melanggengkan kepercayaan masyarakat lain yang telah hadir secara turun temurun. 
Cara yang bisa dengan mudah dilakukan adalah terus berupaya menjaga dan melestarikan habitat dari segala jenis tumbuhan maupun hewan. Meskipun kedua sumber hayati tersebut dapat diperbaharui, namun keberadaanya harus dijaga agar tidak mengalami kepunahan, Jika bukan kita yang berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan, lantas siapa lagi?

Ada beragam upaya yang dapat kamu lakukan dalam pelestarian lingkungan, terutama pada tumbuhan. Diantaranya adalah melakukan reboisasi atau penanaman kembali, menerapkan sistem tebang pilih, mencegah kebakaran hutan, tidak membuang sampah sembarangan dan memberlakukan sistem daur ulang. Hingga saat ini sudah banyak sekali pelaku usaha yang menerapkan sistem daur ulang yang pada akhirnya melahirkan banyak kisah sukses dari mereka yang menerapkannya.

Jika kamu mulai tertarik menjadi salah satu orang yang ingin melestarikan lingkungan dan memilih Kayu Eboni sebagai sumber yang hendak kamu budidayakan. Kamu memerlukan sebuah asupan inspiratif yang tentu sangat berkaitan. Salah satunya adalah sebuah brand lokal asli Indonesia yang mengusung tema kayu sebagai bahan baku utama dalam pembuatan sebuah jam tangan. MATOA menyatukan kreativitas para seniman pengrajin dalam mengolah bahan kayu Eboni dan menawarkan elegansi penuh, khusus untuk kamu pecinta fashion mode yang ingin tampil unik dan berbeda.

Find our products on