Matoa Timeless Series

Matoa-indonesia.com 

Sebagian orang percaya bahwa waktu adalah konsep berjalan yang terus maju dan memisahkan kita dari masa lalu, sebagian percaya waktu itu fana, sebagian lagi menganggap bahwa waktu adalah uang. 

Waktu akan terus seperti itu, menimbulkan enigma tentang keabadian yang fana, tanpa perlu dilihat dan disentuh, namun bisa dirasa. 

Sebuah dimensi yang menyimpan banyak misteri dalam perjalannya di alam semesta.

Bicara tentang waktu dan keabadian, rasanya kami sangat ingin berbagi pandangan analogi tentang sebuah substansi.

Sama halnya dengan waktu yang merupakan substansi dari keabadian, dimana tak akan ada keabadian tanpa adanya waktu.

Maka, Matoa adalah substansi dari Indonesia, karena Matoa tidak akan lahir tanpa adanya budaya Indonesia. 

Khususnya, Matoa Timeless Series dan hal-hal menarik yang berkisah dibaliknya.

instagram.com/matoa_id/

MATOA Way Kambas – Sumatran Rhino Limited Edition ini didedikasikan khusus untuk Badak Sumatera. Badak Sumatera adalah spesies terkecil diantara 5 spesies badak di dunia yang memiliki kulit berbulu dan berwarna coklat kemerahan. Keindahan cula dari Badak Sumatera menjadi sebuah mimpi buruk bagi mereka. Mereka diburu, dan tanduk mereka diambil untuk kebutuhan manusia. Inilah yang membuat populasi Badak Sumatera kian menurun, terutama dengan perkembangannya yang sangat lambat. Badak Sumatera betina kawin setiap empat atau lima tahun dengan masa kehamilan selama 16 bulan. Spesies ini biasanya ditemukan di Sumatra, terutama di Bukit Barisan Selatan, Way Kambas, dan Taman Nasional Gunung Leuser dengan perkiraan populasi dibawah 100 badak Sumatera.

instagram.com/matoa_id/

MATOA Kaili – Suku Kaili adalah suku bangsa di Indonesia yang secara turun temurun tersebar dan mendiami sebagian besar dari Provinsi Sulawesi Tengah. Konon, banyak cerita menarik dari suku ini salah satunya tentang wanitanya. Zaman dahulu, remaja perempuan dari suku Kaili hidup sangat terbatas. Mereka dikurung dalam rumahnya, tidak diperbolehkan turun dari rumah tanpa memakai dua helai kain. Satu helai kain diikat diperut dan satu helainya lagi dipakai untuk menutup muka sehingga hanya dua mata yang nampak. Setelah menikah, mereka baru diperbolehkan turun dari rumah tanpa terikat oleh dua helai sarung. Seiring berjalannya waktu, wanita Kaili mulai dibebaskan untuk keluar rumah. Mereka mulai memperlihatkan kreativitasnya, salah satunya dengan menenun. Menenun sarung menjadi kegiatan para wanita disana dan dijadikan sebagai kerajinan khas masyarakat suku Kaili.

Keindahan sosok inilah yang membuat kami terinspirasi untuk menciptakan MATOA Kaili. Penunjuk waktu ini memiliki desain yang minimalis dan ukuran mungil yang dapat memaksimalkan gaya feminin penggunanya.

instagram.com/matoa_id/

Matoa Tomia – Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. 4 pulau besar di kawasan Sulawesi Tenggara yang saling membentuk gugusan Wakatobi. Tidak terbantahkan lagi jika masing-masing pulau menyimpan kecantikan tersendiri, tidak terkecuali Tomia. Namanya mungkin jarang dikenal tapi pulau ini telah menarik banyak perhatian orang-orang yang mencari ketenteraman.

Waktu terasa berputar begitu lambat saat berada di pulau ini. Eksotisme bawah lautnya memberikan kedamaian yang melenakan, membuat siapa pun yang singgah di sini betah berlama-lama. Di penghujung hari terlihat dari daratan Tomia, matahari pulang ke jantung samudera, menandakan akhir dari satu hari. Namun tidak meninggalkan kenyataan bahwa matahari akan terbit keesokkan harinya, mengisyaratkan kita masih dikaruniai waktu untuk memulai hari yang baru.

Untuk menghargai waktu, MATOA menciptakan sesuatu yang berbeda. Karena waktu 24 jam bukan lah sekedar angka untuk disia-siakan. Tetapi untuk digunakan sebagaimana mestinya. Dengan alasan ini kami menghadirkan MATOA Tomia, penunjuk waktu yang hanya memiliki 1 jarum pada dial, tanpa menghadirkan jarum menit mau pun detik.

instagram.com/matoa_id/

Matoa Mori – Mori, sebuah suku di Sulawesi Tengah telah menginspirasi kami untuk senantiasa berinovasi dalam pembuatan jam MATOA melalui sejarah dan nilai kearifan lokal yang disimpan oleh penduduknya. Bagaimana mereka dapat mengolah kulit kayu menjadi bahan pakaian yang menarik maupun sistem kekerabatan dan kediamannya yang berbeda namun setiap penduduknya tetap bersatu menjunjung budayanya, sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan mengapa kami memilih suku ini sebagai nama dari koleksi terbaru kami.

Ragam budaya Suku Mori juga memberikan ide bagi kami untuk terus berinovasi pada desain koleksi MATOA. Berbeda dengan pendahulunya, MATOA Mori hadir dalam ukuran compact dan mampu menambah penampilan lebih feminin nan klasik bagi pemiliknya. Selain itu, MATOA Mori menyiratkan apa yang patut dibanggakan dari kekayaan suku asalnya.

Hal-hal tersebut juga lah yang mengajarkan kami bahwa setiap penduduk Indonesia semestinya bangga akan ragam kekayaan yang kita miliki namun tetap bersatu untuk menjaganya. Dari sini kami terapkan dalam pengembangan MATOA yang menyusur berbagai kebudayaan lokal untuk menjadi suatu kebanggaan bersama di wajah internasional.

Matoa Timeless Series adalah wujud lestari budaya Indonesia yang dengan sengaja kami rangkai dan kemas dalam koleksi jam tangan kayu.

Guratan rupa pada setiap rancangannya, menyimpan keunikan tentang keragaman budaya Indonesia.

Matoa Timeless Series menjadi wajah Indonesia yang nyata dan tidak akan pernah habis tergerus waktu. Mereka lekat dan melingkar pada pergelangan tangan Si pemakainya, untuk dibawa dan diperkenalkan kepada dunia.

Find our products on