image facebook pixel

Memaknai proses di balik sebuah jam

Matoa Factory Visit adalah program kunjungan dari aktivis maupun pelaku industri kreatif lokal ke workshop kami yang berlokasi di Bandung. Dalam kunjungannya, mereka akan ikut serta dalam rangkaian kegiatan produksi jam tangan Matoa dari masih berupa potongan kayu sampai tahap finishing. Mereka juga akan merasakan pengalaman membuat jam tangan Matoa dengan tangan mereka sendiri. Berikut adalah kisah lengkap dan pengalaman dari peserta Matoa Factory Visit!

Rara Sekar


“Pencarianku pada produk-produk lokal yang baik dan bijak masih berlanjut sampai saat ini. Jujur, udah lama banget ingin memenuhi hasrat kebendaan diri ini untuk punya jam tangan haha tapi kok rasanya belum juga menemukan yang pas. Maka senang sekali rasanya ketika beberapa waktu lalu dipertemukan dengan Lucky Danna Aria dari Matoa. Seru banget ketika tektokan membahas cerita Matoa. Dari cerita mereka, aku jadi tau kalau jam tangan kayu mereka sebenarnya dibuat dari kayu yang didaur ulang dari sisa pabrik furnitur dan lantai kayu. Menurut penelusuran mereka, banyak limbah kayu di sekitar Bandung yang pada akhirnya dibuang atau dibakar, jadi daripada terbuang sia-sia lebih baik diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk banyak orang.

Saat diperbolehkan mengintip proses pembuatannya, aku juga sempat berkenalan dan bahkan diajarin cara memasang jam tangan dengan para pengrajinnya. Pengrajin-pengrajin jam tangan kayu di Matoa adalah anak-anak muda dari satu kampung di sekitar Ciwidey. Mereka tampak khusyuk seperti tenggelam dalam sebuah trance ketika asyik memasang jarum-jarum di atas jam tangan. Sebenarnya mereka bisa aja semuanya pakai mesin, tapi menurut mereka, kerja sama dengan masyarakat sekitar yang sebenarnya memiliki kemampuan kerajinan tak kalah pentingnya. “Beda, Ra. Ada tangan-tangan yang terus mendoakan di dalam prosesnya.” Sepulang dari MATOA, aku jadi berandai-andai: semoga suatu hari bentuk-bentuk usaha lokal seperti ini bisa berkembang menjadi bentuk koperasi yang berlandaskan ekonomi solidaritas, di mana para pengrajinnya pun punya andil dan porsi yang lebih besar dalam pengambilan keputusan dan pembagian pemasukan. Jadi teringat sebuah toko roti anarko di Paris, La Conquête du Pain.

Mengetahui tangan-tangan yang membuat sebuah produk, sumber bahan bakunya, ke mana dan kepada siapa pemasukan dari sebuah bisnis rasanya bisa membuat pola konsumsi kita lebih ‘sadar’. Yang pasti, ada baiknya mendukung hal-hal yang baik, untuk menjadi lebih baik lagi. Terima kasih Matoa untuk kesempatannya!”

Rara Sekar


Siapakah tokoh yang kamu inginkan untuk Matoa Factory Visit selanjutnya?