image facebook pixel
Loading GIF - Matoa

Hong Kong Di Balik Gedung Pencakar Langit


Belum lama ini, Product Designer kami, Imaduddin Abdurrahman, atau yang akrab disapa Duddin, meninggalkan jejak kakinya di Hong Kong. Namun, tampaknya bukan hanya jejak yang ia tinggalkan. Duddin juga menyimpan banyak memori di tempat yang ia anggap istimewa itu. Bagi kebanyakan orang, Hong Kong merupakan surga kuliner dan belanja serta pusat budaya yang selalu ramai. Mungkin gedung-gedung pencakar langit lah yang menghipnotis mereka. Tapi, lain halnya di mata Duddin yang peka akan desain dan detail. Menurutnya, kota ini menyuguhkan lebih dari itu.

Yang pertama yakni Kowloon Walled City. Dulunya tempat ini disebut-sebut sebagai tempat yang memiliki populasi paling padat di dunia. Sulit bagi Duddin untuk membayangkan bagaimana sekitar 35,000 orang dapat tinggal di lahan seluas 2.7 hektar dan menyebut area ini rumah. Penduduk di sini rela tinggal berdesak-desakkan di dalam beberapa blok rumah susun dan beraktivitas setiap harinya di tengah-tengah gedung-gedung yang saling berhubungan, tanpa ada kontribusi apa pun dari arsitek. Pada bulan Maret 1994, kumpulan penduduk terakhir akhirnya menerima keputusan pemerintah untuk meruntuhkan tempat tinggal mereka dan merekonstruksi tempat tersebut menjadi taman. Kini, taman tersebut menyuguhkan panorama alam yang dulunya merupakan suatu tempat di mana sisi gelap kemanusiaan pernah berkembang.

Lanjut ke sisi Hong Kong yang lebih terang, yakni pusat kreativitas. Di tengah hiruk pikuk kota ini, terdapat rumah bagi sejumlah industri kreatif di Hong Kong untuk memamerkan produk-produk berkualitas, yang diberi nama PMQ. Mulai dari fashion, furniture, alat tulis, hingga pakaian anak dan peralatan dapur, semua bisa ditemukan di sini. Bahkan ada banyak barang-barang aneh nan unik yang berhasil membuat Duddin bertanya-tanya ?siapa otak dibalik pembuatan barang ini? Bagaimana mereka bisa mendapatkan idenya??.

Terlebih lagi, di sana juga ada The Qube, sebuah ruangan besar yang menghubungkan dua bangunan serta halaman yang ditutupi kaca dan dikeliling lima restoran. Salah satu lantainya disediakan khusus untuk communal lounge  dan meeting area, ditambah beberapa commercial spaces di lantai bawah. Disebut sebagai rumah bagi 100 bisnis kreatif, menurut Duddin PMQ adalah semacam kejutan di dalam suatu kotak di mana ia dapat menemukan segudang inspirasi untuk karya-karyanya selanjutnya.  Tidak berhenti di situ saja, beberapa acara dan workshop juga sering diadakan di PMQ sebagai bentuk apresiasi karya para desainer lokal. Bagi Duddin, tempat ini merepresentasikan Hong Kong itu sendiri, dengan karakter yang ia sendiri tidak bisa ilustrasikan di atas kanvasnya.

Selama 10 hari, entah bagaimana Hong Kong telah memperkenalkan dan mengungkapkan apa isi kota tersebut pada Duddin ? sebuah kota yang memiliki ragam budaya yang dinamis selain reputasinya sebagai panorama city lights terbaik di dunia. Dan satu hari nanti, ia akan kembali ke Hong Kong untuk menjelajah lebih luas lagi.


Tags :