image facebook pixel
Loading GIF - Matoa

Memaknai 24 Jam dengan MATOA Tomia


Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. 4 pulau besar di kawasan Sulawesi Tenggara yang saling membentuk gugusan Wakatobi. Tidak terbantahkan lagi jika masing-masing pulau menyimpan kecantikan tersendiri, tidak terkecuali Tomia. Namanya mungkin jarang dikenal tapi pulau ini telah menarik banyak perhatian orang-orang yang mencari ketenteraman.

Waktu terasa berputar begitu lambat saat berada di pulau ini. Eksotisme bawah lautnya memberikan kedamaian yang melenakan, membuat siapa pun yang singgah di sini betah berlama-lama. Di penghujung hari terlihat dari daratan Tomia, matahari pulang ke jantung samudera, menandakan akhir dari satu hari. Namun tidak meninggalkan kenyataan bahwa matahari akan terbit keesokkan harinya, mengisyaratkan kita masih dikaruniai waktu untuk memulai hari yang baru.

Setiap individu memiliki porsi waktu yang sama, 24 jam. Yang menjadi pembeda adalah cara seseorang memanfaatkan setiap jam yang berlalu. Penunjuk waktu menjadi sebuah simbol berjalannya waktu. Tanpa disadari, gerak jarum jam berputar penuh sebanyak dua kali, menandakan betapa terbatasnya waktu yang kita miliki.

Untuk menghargai waktu, MATOA menciptakan sesuatu yang berbeda. Karena waktu 24 jam bukan lah sekedar angka untuk disia-siakan. Tetapi untuk digunakan sebagaimana mestinya. Dengan alasan ini kami menghadirkan MATOA Tomia, penunjuk waktu yang hanya memiliki 1 jarum pada dial, tanpa menghadirkan jarum menit mau pun detik.

Di saat waktu 24 jam hanya lah sebuah angka, MATOA menghadirkan makna yang tersirat pada setiap jam yang kita miliki. Dibalik guratan kayunya, MATOA Tomia menyimpan filosofi bahwa dengan gaya hidup santai kita dapat menghargai waktu lebih baik dan menggunakannya dengan bijak, untuk menikmati setiap proses serta momen yang berlangsung dalam kehidupan.

Dalam balutan kayu ebony Makassar yang diukir membentuk wujud yang baru, arti 24 jam kini dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Angka 24 tidak akan pernah berganti, yang perlu diubah hanya perspektif setiap orang dalam menghabiskan waktu. Jam demi jam berlalu, MATOA Tomia akan senantiasa mengisyaratkan bahwa kita tidak perlu terburu-buru untuk menciptakan waktu.


Tags :