Menyikapi Dan Memaknai Perbedaan, Itu Mudah!

menyikapi-perbedaan
matoa-indonesia.com

Sebagai negara yang berdiri di atas empat pilar berbangsa dan bernegara, yaitu ”Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika”, Indonesia adalah sebuah negara pluralistis yang masyarakatnya beraneka ragam.

Bangsa yang sering disebut sebagai bangsa paling majemuk di dunia dimaknai berdasarkan kemajemukan yang terjalin dalam satu ikatan bangsa Indonesia, sebagai satu kesatuan bangsa yang utuh dan berdaulat. Di negara Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa ini, berdiam tidak kurang dari 300 etnis dengan identitas kulturalnya masing-masing, lebih dari 250 bahasa dipakai, beraneka adat istiadat serta beragam agama dianut. Kendati demikian, kehidupan berjalan dengan apa adanya selama bertahun-tahun. Orang dengan suku berbeda dapat hidup rukun dengan suku lain yang berbeda adat, bahasa, agama dan kepercayaan. Gesekan dan konflik memang kerap terjadi karena memang hal itu bagian dari dinamika masyarakat, namun semua gesekan yang ada masih dalam tahap terkendali.

Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan bangsa Indonesia. Semboyan ini tertulis di dalam lambang negara Indonesia, Burung Garuda Pancasila. Pada kaki Burung Garuda itulah terpampang dengan jelas tulisan Bhinneka Tunggal Ika. Secara konstitusional, hal tersebut telah diatur dalam pasal 36A Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi “Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika”. Istilah “Bhinneka Tunggal Ika” dipetik dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14. Istilah tersebut tercantum dalam bait 5 pupuh 139. Bait ini secara lengkap dalam ( Id-wikipedia: 2013 ) seperti di bawah ini: 

Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa, 
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, 
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal, 
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Terjemahan: 

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. 
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimana bisa dikenali? 
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal Terpecah belahlah itu, tetapi satu jualah itu. 
Tidak ada kerancuan dalam kebenaran. 

7 Wujud Keberagaman Budaya Indonesia, Dari Sabang Sampai Merauke 

wujud-keberagaman-indonesia
Pinterest.com

Kamu pasti masih mengingat beberapa hal dari berbagai pelajaran budaya Indonesia yang diajarkan saat masih duduk di sekolah dasar, bahkan mungkin kamu adalah seseorang yang menjalani kehidupan berbudaya dengan cukup kental. Dalam artikel mengenai perbedaan ini, kami ingin kamu bisa kembali mengingat tentang keragaman budaya Indonesia yang kaya akan nilai seni dan estetika. Berikut kami rangkum, 7 ragam budaya yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.

1. Rumah Adat

Upacara adat adalah salah satu tradisi yang dianggap memiliki nilai-nilai bagi masyarakat sekitar.

Selain sebagai cara manusia untuk berhubungan dengan para leluhur dan Sang Pencipta, upacara adat juga menjadi perwujudan manusia untuk menyesuaikan diri terhadap alam dan lingkungannya dalam arti luas.

Contohnya, upacara ruwatan dalam tradisi Jawa untuk menyucikan seseorang dari kesialan. Upacara sekaten oleh masyarakat Yogyakarta dilakukan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad.

Kemudian upacara Ngaben di Bali dengan melakukan kremasi jenazah, dan upacara bakar batu di Papua yang bertujuan untuk bersyukur, bersilaturahmi, atau menyambut tamu penting.

2. Upacara Adat 

Upacara adat adalah salah satu tradisi yang dianggap memiliki nilai-nilai bagi masyarakat sekitar.

Selain sebagai cara manusia untuk berhubungan dengan para leluhur dan Sang Pencipta, upacara adat juga menjadi perwujudan manusia untuk menyesuaikan diri terhadap alam dan lingkungannya dalam arti luas.

Contohnya, upacara ruwatan dalam tradisi Jawa untuk menyucikan seseorang dari kesialan. Upacara sekaten oleh masyarakat Yogyakarta dilakukan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad.

Kemudian upacara Ngaben di Bali dengan melakukan kremasi jenazah, dan upacara bakar batu di Papua yang bertujuan untuk bersyukur, bersilaturahmi, atau menyambut tamu penting.

3. Pakaian Tradisional 

Keragaman budaya Indonesia selanjutnya adalah pakaian adat. Pakaian adat atau tradisional berfungsi untuk mengekspresikan identitas. Pakaian adat ada yang digunakan untuk acara sehari-hari maupun untuk upacara-upacara adat.

Misalnya, baju bodo khas suku Bugis dan Makassar, ulos dari Sumatera Utara, pakaian adat betawi khas DKI Jakarta, kebaya Jawa dengan jarik batik khas Jawa Tengah, pakaian adat king baba dan king bibinge dari Kalimantan Barat.

4. Tarian Adat 

Tiap daerah mempunyai tarian adat masing-masing dengan peruntukan yang berbeda. Ada tarian untuk menyambut tamu agung, menyambut panen, upacara kematian, upacara keagamaan, dan sebagainya.

Sebut saja, tari Saman dari daerah Aceh, tari kecak dan pendet dari Bali, tari jaipong dari Jawa Barat, tari reog Ponorogo dari Jawa Timur, tari topeng Betawi dari Jakarta, tari piring dari Sumatera Barat, tari maengket dari Sulawesi Utara, dan sebagainya.

5. Senjata Tradisional 

Senjata tradisional tak hanya digunakan sebagai alat berlindung dari serangan musuh, tapi juga digunakan dalam kegiatan berladang dan berburu, dimana senjaya tersebut dikerjakan langsung oleh pengrajin lokal dari daerah tersebut.

Pada saat ini, senjata tradisional telah menjadi identitas bangsa yang turut memperkaya kebudayaan Nusantara. Misalnya rencong khas masyarakat Aceh, golok khas Betawi, kujang khas Jawa Barat, keris khas Jawa Tengah, celurit asli Madura, dan badik dari Sulawesi.

6. Kuliner Khas Nasional 

Kuliner atau makanan juga merupakan produk budaya berwujud nyata yang sangat mudah dikenali sebagai identitas suatu masyarakat.

Misalnya di Sumatera Selatan terkenal dengan makanan pempek. Kemudian kerak telor dari Jakarta, nasi lengko khas Cirebon, karedok khas Jawa Barat, nasi gudeg khas Yogyakarta, rujak cingur dari Jawa Timur, ayam betutu dari Bali, ayam taliwang dari NTB, papeda dari Maluku dan Papua.

7. Alat Musik Dan Lagu Daerah

Lagu tradisional adalah lagu yang berasal dari daerah tertentu. Lagu daerah mirip dengan lagu kebangsaan namun statusnya hanya bersifat kedaerahan dengan lirik dan bahasa asal daerah masing-masing.

Lagu tradisional umumnya menceritakan nilai kehidupan masyarakatnya dan memiliki makna mendalam.

Contoh lagu tradisional yang terkenal di Indonesia adalah Rasa Sayange asal Maluku, Gundul-gundul Pacul dan Bapak Pucung dari Jawa Tengah, Bungong Jeumpa dari Aceh, Ayam Den Lapeh dari Sumatera Barat, Anging Mamiri dari Sulawesi Selatan, Manuk Dadali asal Jawa Barat.

Indonesia juga memiliki alat musik tradisional khas masing-masing daerah, seperti angklung, karinding, bedug, calung, gamelan, kolintang, tifa, tamborin, saluang, sasando, dan masih banyak lagi.

Berkat keragaman yang dilahirkan dari berbagai ideologis dan warisan turun temurun dari setiap daerah, Bangsa ini juga dikaruniai oleh ragam bahasa yang sangat beraneka. Kamu bisa mempelajari banyak sekali bahasa daerah, agar mempermudah kamu saat berkomunikasi dengan seseorang yang berasal dari daerah lain. Bahasa itu penting, maka dari itu sebelum jauh kamu berpikir untuk mempelajari bahasa lain, ada baiknya untuk mengenal lebih dalam kosakata bahasa pemersatu bangsa, yakni bahasa Indonesia. 

Lebih Dekat Lagi Dengan Perbedaan

Cobalah lihat lebih dekat lagi, seseorang yang mungkin saat ini sedang bersamamu. Apakah kamu yakin, hanya karena memiliki banyak persamaan, lantas membuatmu bisa lebih dekat dengannya? Sepertinya tidak sesederhana itu, bukan? Bisa jadi, sebuah perbedaanlah yang akhirnya dapat menyatukan kalian. Suatu hubungan dapat dikatakan memiliki kekuatan chemistry dan menjadi semakin intim karena melibatkan sebuah perasaan emosional yang dibangun dan diawali dari berbagai esensi. 

Mayoritas orang menilai kecocokan pribadi antar pasangan atau pertemanan, dari banyaknya kesamaan yang dimiliki orang tersebut. Pada kenyataannya, hubungan antara dua orang atau lebih yang berkarakter berbeda dapat berjalan sukses. Misalnya, seseorang dengan pribadi introvert, dapat belajar banyak dari kelebihan ekstrovert begitu pula sebaliknya. Selain soal kepribadian, perbedaan terhadap selera pun mungkin sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Misalnya, sahabatmu sangat senang datang ke sebuah konser musik, sementara kamu lebih senang berdiam diri sambil membaca buku atau berkeliling menikmati sajian kuliner khas. Perbedaan tersebut tidak menjadikan persahabatanmu rusak, bukan? Jauh dari itu semua, sejatinya perbedaan justru membuat sudut pandang tentang dunia ini menjadi lebih luas lagi. Inilah makna toleransi yang sebenarnya, saling menghormati dan melengkapi satu sama lain.

Simak berbagai cerita yang sengaja kami sajikan, agar kamu lebih mudah mengenali diri lebih dalam tentang “Apa sih yang membedakan diri kamu dengan orang lain?”

Saya seorang perempuan, 24th yang bekerja di salah satu perusahaan area distrik bisnis di Jakarta. Seperti yang kalian tahu, hampir semua orang disini, tidak sembarang berpakaian. Saya memiliki beberapa teman perempuan lain yang dari atas sampai bawah, dibalut oleh barang-barang branded. Namun saya berbeda, saya tidak pernah belanja pakaian di mall atau belanja barang mahal. Meskipun saya bekerja dan tinggal di ibu kota, saya tidak pernah memiliki niat untuk membeli hal lain kecuali buku jika ke mall. Jangankan mall, toko baju atau butik pinggir jalan saja saya sering mikir berkali-kali untuk berbelanja disana. Jadi saat orang-orang seumuran saya pamer foto menenteng paper bag brand fast fashion yang menurut mereka mewah. Saya yang tidak mengalokasikan banyak budget untuk belanja fashion di mall, saya memilih ke tempat yang merakyat dan tidak terlalu mengintimidasi saya ,seperti pasar thrift di salah satu daerah di kota Jakarta. Selain thrift atau saya menyukai berbagai produk lokal di Indonesia, karena saya suka belanja secara online, saya banyak koleksi produk lokal dari berbagai daerah. Lucky me! Teman-teman dan lingkungan saya sangat supportive dan tidak judgmental karena saya berbeda. Saya tetap menjadi diri saya, ketika bersama siapapun dan kapanpun. Meski harus berbeda di tengah mereka, saya tetap disukai kok!

Saya seorang laki-laki, 26th dan sangat menyukai mitologi, “Terserah, mau dibilang wibu, aneh, freak, sesat, musyrikin, satanis, apa kek. Gak peduli!”
Saya juga kurang sreg dengan konsep kerja jam berapapun ala anak Millenial masa kini. Saya ingin menggunakan waktu malam saya untuk makan, olahraga, mendengarkan musik, baca buku, nonton bola, nonton opera, dll. Saya tidak mau disuruh kerja sambil liburan apalagi kalo saya bukan bisnis sendiri. Saya terlalu malas untuk mikir berat di malam hari & saat libur.
Saya berbeda dari kebanyakan orang dan saya tidak tertarik untuk mengetahui isi pikiran orang lain, meski orang menganggap saya aneh, saya akan tetap berjalan nyaman dengan segala perbedaan ini.

Mengetahui perbedaan selera yang datang dari generasi yang sama, apakah sudah membuatmu berani untuk menunjukan bahwa kamu pun memiliki perbedaan selera yang unik? Mulailah bereksplorasi! Jangan merasa berkecil hati, sebab dunia ini begitu luas.

Bijaklah Dalam Memandang Perbedaan

bijak-dalam-memandang-perbedaan
Pinterest.com

“Kamu tuh sebenernya cantik lho! Tapi sayang….” 
“Percuma ganteng, kalo….”

Pernahkah mendengar seseorang yang melontarkan kalimat seperti ini? Bagi kebanyakan orang di Indonesia, tentu saja pernah mendapat kalimat kurang mengenakan yang entah dikatakan langsung terhadap kamu atau seseorang di dekatmu. Kira-kira, apa efek yang kamu rasakan setelahnya ? Acuh, sedih, marah atau malah terpicu untuk mengikuti sebuah standar dari apa yang dikatakan seseorang tersebut?

Contoh kalimat yang seakan-akan berbunyi sebagai pujian tersebut, disebut toxic positivity berbasis gender yang cukup sering disematkan oleh sebagian orang-orang, yang masih mengagungkan sebuah konsep standar kecantikan dan keindahan. 

Toxic positivity adalah sebuah kondisi, saat seseorang menuntut dirinya sendiri atau orang lain untuk berpikiran dan bersikap positif. Sikap ini, umumnya muncul melalui ucapan dari seseorang yang memiliki pemikiran, yang demikian mungkin bisa sering melontarkan petuah yang terkesan positif, tapi sebenarnya merasakan emosi yang negatif.  Toxic Positivity sangat nyata ada di sekeliling kita, bahkan terkadang tidak kita sadari bahwa kita adalah pelaku atau korban dari perilaku tersebut. 

Dalam hal bagaimana seseorang memandang kecantikan dan keindahan tubuh manusia, masih banyak segelintir orang-orang yang menormalisasi konsep standar kecantikan, dimana dapat dikatakan seseorang tersebut “good-looking” saat ia memiliki postur tubuh yang proposional, kulit tubuh dan wajah yang bersih tanpa noda, atau warna kulit yang putih. 

Padahal, manusia diciptakan dengan segala perbedaan kondisi dan bentuk yang beraneka ragam. Dalam perjalanannya, seseorang bisa saja ingin mengubah kondisi dan bentuk tubuh mereka karena alasan medis atau sesuatu yang mengharuskannya untuk mengubah bentuk tubuh. Namun, ini menjadi racun tersendiri, saat seseorang merasa mengalami tekanan penuh dari sosial, akibat tidak memenuhi standar kecantikan yang dibuat oleh manusia. 

Baru-baru ini, terdapat seorang Selebgram berinisial MH yang bertubi-tubi melontarkan unggahan tak simpatik. Pertama, ia menyebut model gemuk yang diperkenalkan Victoria’s Secret tak memenuhi standar kecantikan yang semestinya. Kedua, ia melancarkan ujaran rasis yakni “burik” kepada pemeran Julien Calloway dalam reboot serial Gossip Girl.

Selebgram tersebut dicela dan dibela. Ia dibela karena berani mengambil sikap berbeda dan memakai haknya untuk bebas berpendapat di ruang publik. Namun, ia dicela karena berlindung di balik kebebasan berpendapat demi mengamplifikasi pesan-pesan kebencian dan standar bobrok kecantikan–yang jarang adil terhadap semua manusia, khususnya perempuan. Apa yang disampaikan MH tak lebih dari manifestasi standar kecantikan yang sebenarnya dibangun dari bingkai diskriminasi gender dan ras, lalu dilanggengkan oleh media massa dan sosial media.

Media massa atau media sosial yang meliputi instagram, twitter, bahkan website tidak berhenti “menyuapi” standar kecantikan di seluruh belahan dunia. Sehingga, bagi seseorang yang tidak dapat memenuhi standar kecantikan ini, bakal auto-terpinggirkan dan mendapatkan diskriminasi.

Lantas, ada apa dengan dunia ini sehingga perkara kecantikan saja bisa menjadi perdebatan yang tidak berujung? Bijaklah dalam memandang perbedaan, diam lebih baik daripada mengatakan sesuatu yang buruk terhadap orang lain.

Berdamai Dengan Perbedaan 

Berbicara mengenai berdamai dengan perbedaan, tanamlah sebuah sikap kebersediaan untuk menerima bahwa tidak segala sesuatu berjalan dengan seragam. Sebagai makhluk sosial yang hidup berdampingan dengan manusia lainnya, kita senantiasa memiliki sikap mengalah, yang dalam arti sesungguhnya adalah mengalahkan ego diri sendiri. Mengalahkan kehendak diri untuk menjadi ‘paling’ di antara yang lain. Tuhan itu Maha Keren kok! Ia begitu kreatif dalam menciptakan kita sebagai hambaNya. Kita tercipta dengan perbedaan masing-masing, berbeda bentuk fisik, sudut pandang, kepercayaan dan gaya berpenampilan. Semua punya keunikannya masing-masing.

Ubah pola pikir sebagai “saya”, agar ego tidak selalu dikedepankan. Berpikirlah sebagai “kita” agar segala perbedaan itu, dapat kita tepis.
Berhenti menyibukan diri untuk menyamakan seisi dunia. Buat dirimu nyaman, damai dan bahagia meski dengan jalan yang berbeda!

Find our products on