Satu Langkah Kecil Untuk Mulai Mencintai Diri Sendiri

langkah-kecil-self-love
Google.com

Menjalani kehidupan sebagai seorang manusia, memang tidak pernah mudah. Berhadapan dengan berbagai macam karakter manusia lainnya sejak kecil hingga dewasa, adalah sebuah PR yang tidak akan pernah selesai, selama kaki ini masih berpijak di bumi.

Kamu pasti pernah membaca atau mendengar sebuah pepatah yang berbunyi “Anjing menggonggong kafilah berlalu” yang artinya, tidak peduli terhadap cibiran atau perkataan yang orang lain sematkan pada kamu. Tapi, apakah sebenarnya kamu yakin bisa menjadi seseorang yang seacuh itu? 

Kenyataannya, tidak sedikit dari cibiran-cibiran ini yang berdampak buruk bagi kesehatan mental dari para penyintasnya, atau yang kita kenal dengan istilah “baper” atau terbawa perasaan. Baper menjadi istilah massive yang terdengar bercanda, namun jika dialami secara berlebihan dan terus-menerus bisa berakibat sangat fatal. 
Berawal dari baper, seseorang akan merasa tidak percaya diri, menumbuhkan insecurity hingga berbagai jenis penyakit mental yang jika tidak ditangani dengan tepat, kondisinya akan meningkat semakin serius hingga berujung keputusasaan dan keinginan untuk mengakhiri hidup, karena tidak sanggup menghadapi banyaknya negative vibes dari lingkungan dimana ia berada.

Inilah mengapa, kesadaran untuk mencintai diri sendiri begitu penting dan semakin gencar disuarakan oleh banyak orang.

Safe-Space untuk Membangun Self-Love

safe-space
Google.com

Membangun rasa cinta terhadap diri sendiri, bukan sekedar perkara mudah seperti membalikan telapak tangan atau menambahkan bumbu pada masakan yang dirasa kurang sedap. Ini adalah soal pemahaman kita dalam mengenali diri, baik itu kekurangan dan kelebihan. Seperti mencintai orang lain pada umumnya, kamu akan memerlukan waktu yang tidak sebentar dalam mengenal pribadi seseorang, sebelum akhirnya tumbuh perasaan yang lebih dalam. Pada analogi ini, kamu akan merasa seseorang tersebut adalah safe-space untuk berbagi cerita hidup, sudut pandang, emosi dan afeksi. 

Namun, memposisikan orang lain sebagai safe-space kita, terkadang hanyalah sebuah ekspektasi yang hampir terkadang berakhir menyakitkan. Nyatanya, setiap orang itu, pasti berubah! 
Benturan-benturan hidup yang dialami oleh seseorang, pasti mengakibatkan perubahan yang mengarah pada destinasi yang berbeda-beda. Dalam jangka waktu yang tidak dapat diperkirakan, perubahan itu bisa mendatangkan hal-hal baik atau sebaliknya. Maka dari itu, safe-space terbaik yang selalu bisa kamu andalkan pada akhirnya adalah diri kamu sendiri. 

Lalu, bagaimana cara membangun safe-space agar dapat mencintai diri sendiri?

1. Kenali Diri Sebaik Mungkin

Kenali Diri Sebaik Mungkin

Proses mengenal diri sendiri itu adalah perjalanan panjang seumur hidup, tidak ada deadline, tidak ada paksaan dan tidak melibatkan orang lain. Hanya diri sendiri, pikiran dan perasaan kamu saja yang bekerja “

Mengenal diri sendiri menurut psikolog, berarti memiliki pemahaman tentang perasaan, motivasi, pola pikir, dan kecenderungan kita. Hal-hal tersebut memberikan pemahaman yang stabil mengenai harga diri, nilai-nilai, serta motivasi kita. Tanpa pemahaman ini, kita tidak dapat mengukur nilai kita sendiri.

Yakinkan diri bahwa tidak ada orang selain kamu yang sangat paham tentang diri kamu sendiri. Sehingga, datangnya persepsi yang membuat kamu tidak nyaman, dapat dengan mudah kamu tepis karena kamu tahu bahwa kebenarannya tidak seperti yang mereka pikirkan. 

Sebelum kamu dapat mengenal dan menerima segala yang ada pada diri, tentu saja terdapat penolakan atau sebuah perasaan denial yang kamu buat sendiri di dalam pikiranmu. 

Kunci dari penerimaan tersebut adalah kepercayaan diri, percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi pada hidup kamu, siapapun yang hadir dan pergi dalam kehidupan kamu, membawa pelajaran bagi kamu untuk menjalani hidup yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Baik dan buruknya perjalanan hidup, kamu bisa mencoba memposisikan diri dari berbagai sudut pandang dan berdiskusi dengan diri sendiri dalam menemukan cara untuk merespon peristiwa-peristiwa yang kamu alami. 

Jika kamu hidup tanpa mengenal diri sendiri, kamu akan terus berhadapan dengan perasaan gamang dan mudah terpengaruh oleh orang lain. Namun, saat kamu sudah paham akan segala sifat, sikap dan keindahan yang kamu miliki, orang-orang yang datang silih berganti untuk mempengaruhimu, setidaknya kamu punya kekuatan jiwa dan raga untuk tetap bisa berpegang teguh dan tegap berdiri dalam menghadapi semua itu.

2. Berdamai Dengan Kekurangan, Tunjukan Segala Kelebihan

“You are you, on the next level!” Begitu kiranya yang ingin kami sampaikan kepada kamu yang sudah berhasil berdamai dengan kekurangan dan menunjukan segala kelebihan yang ada dalam diri.
Kamu tetap menjadi diri sendiri dalam tahapan yang lebih tinggi, karena sudah bisa membuang jauh kekhawatiran dan ketakutan apabila tidak diterima dengan baik oleh lingkungan sekitar.

Ini adalah salah satu resep menjadi bahagia yang sesungguhnya, karena sense of acceptance yang susah payah kamu bangun, terasa sangat berguna untuk pola pikir yang lebih sehat, sehingga berdampak baik untuk kemajuan hidup kamu.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk berdamai dengan kekurangan, salah satunya dengan menonton banyak kisah sukses atau film inspiratif dari orang-orang berbagai kalangan yang datang dari segala kekurangan baik dari segi fisik atau mental. Lakukan observasi yang mendalam, mengapa orang lain bisa bangkit dari segala keterpurukan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. 

Mari mulai bercermin dari segala sisi. Cobalah memahami sudut pandang dan cara berpikir orang-orang yang selalu terbiasa memandang sebelah mata akan kekurangan orang, apakah mereka sungguh melakukan itu untuk kepuasan diri semata atau mungkin karena mereka juga berusaha menutupi kekurangan dirinya, namun dengan cara yang salah? 

Sambil mengamati itu semua, kamu bisa melakukan eksplorasi terhadap hal-hal yang kamu sukai. Menyibukan diri dengan melakukan banyak kegiatan, membuat kamu tidak ada waktu untuk memikirkan vonis-vonis yang orang lain sampaikan tentang kamu. 

Satu hal lagi yang penting untuk kamu garis bawahi adalah kepercayaan diri yang terlalu berlebihan, kemungkinan bisa menjadi risky dan tricky. Hal ini terjadi, saat kamu berubah menjadi orang yang skeptis atau bahkan terlalu arogan untuk mendengarkan pendapat orang lain tentang kamu. Untuk itu, kembali pada poin pertama yakni kenali diri sebaik mungkin, agar kamu dapat memilah mana pendapat yang baik untuk kamu dengar dan mana yang hanya merupakan omong kosong belaka yang membuat ruang gerak kamu menjadi terbatas, akibat keraguan terhadap kapabilitas kamu sendiri. 

3. Create Your Own Bounder Line And Be Bold!

Menetapkan batasan fisik dan emosional dapat membantu kamu untuk mengontrol cara memperlakukan diri sendiri dan cara orang lain memperlakukanmu. 

Kedua aspek ini berkoneksi dan sangat penting dalam rangka mencintai diri sendiri. Ini membantu memprioritaskan kebutuhan dan memungkinkan kamu untuk lebih tegas dalam menyuarakan kebutuhan tersebut. Menetapkan batasan bisa terlihat seperti:

  • Belajar mengatakan “tidak” tanpa rasa bersalah 
  • Membuat keputusan terlepas dari pendapat orang lain tentang kamu
  • Mempertahankan diri sesuai dengan kebutuhan kamu 
  • Menegakkan batasan untuk menyampaikan permintaan maaf.

Tidak perlu untuk selalu meminta maaf? Menarik untuk dibahas lebih dalam, karena seperti yang kita ketahui, terdapat dua aspek penting dalam bersosialisasi antar sesama, yakni meminta maaf dan berterima kasih. Dalam hidup dan kehidupan, pasti ada ego yang selalu terlibat, dimana ego tersebut membuat kedua aspek tersebut, menjadi cukup sulit kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Lalu, bagaimana bisa kita tidak perlu untuk selalu meminta maaf?

Maaf adalah sebuah kata yang kita lontarkan saat kita melakukan sebuah kekeliruan atau kesalahan, sebuah kata yang sangat sederhana namun tetap sulit diucapkan karena terkadang melibatkan sebuah perasaan gengsi dalam mengakui kesalahan. 

Namun, pernahkah kamu mengenal seseorang yang kerap melontarkan permintaan maaf tanpa ada satupun kesalahan yang dia buat? Orang yang memiliki kebiasaan seperti ini, biasanya terjebak dalam penyesalan, perasaan takut salah, dan terpaksa mengucapkan maaf hingga berkali-kali. Padahal, hal ini kadang tidak perlu dilakukan, bisa jadi apa yang dilakukan bukanlah kesalahan.

Menjadi baik dan sopan, bukan sesuatu yang mengharuskan kamu untuk merasa lebih rendah dari orang lain, itu semua hanya akan menimbulkan perasaan cemas yang tinggi. Dengan kata lain, sikap tersebut adalah sebuah kesulitan dalam menangani segala bentuk ketegangan yang dirasakan, karena tidak tahu bagaimana menghadapi emosi orang lain dengan cara yang konstruktif.

Maka bijaklah dalam meminta maaf terhadap siapapun, berusaha untuk selalu selektif saat menemukan kondisi dimana kamu harus meminta maaf atau tidak. Semua itu berguna agar orang lain tidak memanfaatkan kamu, itulah pentingnya membuat batasan dan menjadi tegas dan hanya kamu seorang yang bisa menciptakannya!

Kisah Inspiratif Sebuah Perjuangan Mencintai Diri Sendiri

kisah-inspiratif
Pinterest.com

Hanya karena satu bagian tubuh atau bentuk tubuh yang berbeda dari kebanyakan orang di sekitar, kita kadang jadi sasaran celaan fisik (body shaming). Belum lagi dengan standar kecantikan yang banyak ditampilkan di berbagai media, kadang kita merasa minder karena tidak memiliki semua yang ada dalam standar tersebut. Padahal kita terlahir dengan perbedaan, keunikan dan keistimewaan kita masing-masing.

Mencintai diri sendiri kadang butuh proses yang cukup panjang dan bisa dikatakan adalah perjuangan seumur hidup. Mengatasi celaan fisik bisa butuh waktu yang tidak sebentar. Namun, selalu ada harapan untuk menjalani hidup dengan lebih baik. Seperti kisah-kisah pilihan dari Matoa berikut ini!

1. Kondisi Fisik Yang Tidak Sempurna 

“Dalam hidup, benar adanya jika manusia memiliki sikap egois, dan tidak pernah merasa puas. Seperti apa yang aku alami dan keadaan yang mengelilingiku. Terlahir sebagai manusia yang begini adanya. Kakiku cacat sebelah karena kelainan gen yang terbawa sejak lahir.

Ekonomi keluarga yang morat-marit, kulit bawaan berwarna coklat gelap yang menjadi bahan bulan-bulanan teman seusiaku. Di usiaku yang menginjak masa puber sungguh aku merasa betapa dunia begitu tak adil padaku. Mengapa aku harus merasa minder dan selalu dihantui oleh beragam kesempurnaan manusia juga latar belakangnya di luar sana?”

2. Berat Badan Dan Bulimia

“Saya mengalami bulimia karena ini. Sejak bertahun-tahun yang lalu, ketika saya telah makan sampai kenyang, beberapa menit kemudian saya akan mencari WC dan memuntahkan semua makanan itu. Saya selalu merasa bersalah ketika telah makan sampai kenyang, oleh karena itu saya memuntahkan makanan itu kembali. Apakah saya puas dengan itu? Tentu saja iya. Tapi di sisi lain kadang saya menyesal.”

3. Jerawat Itu Normal!

“Sebuah peristiwa yang mampu mengubah arti cantik dan bersyukur versi saya adalah saat saya berusia 30 tahunan. Selama ini saya berjuang sebagai seorang acne fighter sejak usia remaja, dan hampir selama 15 tahun saya telah berjuang untuk mendapatkan kulit wajah bersih dan sehat. Saya dikenal sebagai gadis berjerawat sebagai identitas diri dan nama belakang saya yang diberikan teman-teman saya untuk mengingat sosok saya. Saya sudah mengeluarkan banyak dana, waktu, dan tenaga agar bisa mendapatkan kulit wajah bersih dari jerawat. Padahal, jerawat itu normal! Kita bisa tetap cantik dengan berbagai masalah yang ada pada kulit, meski begitu kita tidak berhenti untuk berjuang dalam mendapatkan kulit yang lebih baik. Yang pasti jerawat bukan sebuah hambatan untuk menjalani hidup normal sama seperti yang lainnya!”

Penilaian Publik: Bentuk Perhatian Atau Sekadar Menghakimi?

penilaian-publik
Pinterest.com

Sejujurnya, tidak ada kebenaran yang pasti tentang bagaimana setiap manusia menjalani kehidupan pribadinya, meskipun kamu adalah bagian dari kehidupan orang tersebut. 
Dalam lingkup kehidupan sosial manusia yang terkecil, seperti keluarga saja, terkadang kita masih tidak begitu mengenal pribadi anggota keluarga kita sendiri. Hal ini memang ditengarai oleh beberapa hal, seperti intensitas bertemu yang tidak sering, komunikasi yang kurang baik, hubungan kekeluargaan yang kurang harmonis, atau hanya sebuah ketakutan akan dihakimi oleh anggota keluarga lainnya, saat mereka mengetahui kebenaran tentang diri kita.

Hal ini membuahkan pemikiran baru yang relevan, dimana saat kita berada di ruang publik yang lebih besar lagi untuk bertemu dan bersosialisasi dengan banyak manusia lainnya. Kita tidak dapat mengontrol nilai-nilai yang orang berikan, begitupun kita terhadap orang lain. Asumsi-asumsi yang bermain di pikiran kita tentang bagaimana orang lain menjalani kehidupannya, secara tidak sadar menjadi sebuah ketertarikan akan narasi-narasi yang ada di dalam kehidupan orang lain. 

Menyelisik lebih dalam, apakah penilaian publik terhadap kamu atau sebaliknya kamu terhadap orang lain, apa benar adanya merupakan bentuk perhatian? Ataukah hanya sebuah sikap menghakimi yang seakan-akan dikemas oleh variabel afeksi?

Ada baiknya, jika memang penilaian yang ingin kamu sampaikan terhadap seseorang itu adalah bentuk perhatian. Kamu bisa melakukannya dengan cara yang arif, seperti menjadi pendengar yang baik saat orang menceritakan keluh kesah hidupnya, memberi saran atau nasihat sesuai kebutuhan, mendukung apapun keputusan yang ia ambil dan menjadi teman bicara yang dapat mengalihkan perhatian dari masalah yang menimpanya.

Penutup

Jangan pernah takut untuk mulai menerapkan self-love di dalam diri kamu, karena mencintai diri bukan berarti menjadi egois dan memiliki perasaan ingin selalu unggul daripada manusia lainnya. Self-love adalah tindakan yang dilakukan demi kebaikan diri. Cobalah beberapa langkah kecil untuk self-love, seperti menghadiahi diri sendiri, memanjakan diri, menghabiskan waktu dengan film-film atau buku favorit, mengekspresikan diri lewat musik, bepergian ke tempat yang ingin kamu kunjungi, serta tidak lupa untuk terus berupaya dalam mengeksplorasi kemampuan dan talenta yang kamu miliki. Setelah apa yang kamu lakukan, percayalah bahwa perasaan cinta akan muncul dengan sendirinya. Tumbuh di lingkungan dimana semua orang menghargai kamu dan mempercayai bahwa kamu adalah seseorang yang memiliki value adalah kenyamanan yang tidak dapat dibeli.Mencintai diri sendiri adalah sebuah seni baru dalam memaknai kebahagiaan!

Find our products on