Tak Lagi Dipandang Sebelah Mata, Brand Indonesia Kian Agresif!

Matoa-indonesia.com

Kilas balik sebuah proses perkembangan pasar ekonomi kreatif di Indonesia, dimulai pada saat masa pemerintahan presiden ke-5, Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebuah konsep yang merupakan proses penciptaan, kegiatan produksi dan distribusi barang serta jasa, yang dalam prosesnya membutuhkan kreativitas dan kemampuan intelektual 

Dalam pengaplikasiannya, ekonomi kreatif adalah konsep yang sangat mengutamakan penggunaan ide, pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan suatu produk yang akan dilepas kepada pasar, tentunya menyesuaikan nilai produk terhadap target market yang diinginkan.

Sebelum memasuki merek-merek lokal yang tengah berkembang pesat, apakah kamu penasaran siapakah merek lokal tertua yang hadir di Indonesia?

Mengingat Kembali Merek Lokal Tertua Di Indonesia

1. Dji Sam Soe 234 (1913)

Google.com

Soe adalah sebuah karya dari putera Indonesia kelahiran Fujian, Tiongkok bernama Liem Seeng Tee yang diciptakan pada tahun 1913 di Surabaya. Rokok ini dibuat di 4 pabrik di Jawa Timur yaitu 3 pabrik di Surabaya dan 1 pabrik di Malang (yang juga merupakan pabrik Bentoel). Dji Sam Soe mempertahankan kemasannya selama hampir 1 abad.

Saat kamu mendengar merek-merek tua yang lahir di era pra-kemerdekaan, sudah pasti yang pertama kali teringat adalah produk turunan tembakau (sigaret kretek), kopi, teh, atau makanan lain. Mengingat Indonesia baru lahir 1945, namun kenyataannya beberapa merek yang masih bertahan saat ini sudah lebih dulu lahir, semacam Royal Dutch Shell (1880), Kecap Bango (1928). Apakah kemungkinan ini yang benar-benar didirikan warga Hindia Belanda?

Kamu bisa coba untuk memperbanyak literasi, dengan cara mengecek liberalisasi perdagangan yang dimulai pada tahun 1870, saat UU Penanaman Modal Asing berlaku.

2. Kecap Bango

Google.com

Mustahil kalau kamu tidak mengetahui salah satu merek penambah rasa makanan yang satu ini. Nama merek Kecap Bango yang tidak pernah padam ini, mungkin memiliki jurus jitu agar produknya terus tetap eksis sepanjang masa.

Kemasan yang diremajakan, rasa terus dipertahankan, penetrasi pasar diperkuat. Bisa jadi sebuah kiat inovatif memperpanjang umur sebuah merek yang membuat Kecap Bango terus terbang tinggi. 

Dari jago lokal, ia menjelma menjadi bintang di tingkat nasional. 

Bermula dari pojok kampung di daerah Benteng, Tangerang, pada 1928, kini Sang Bango mudah dijumpai di toko kelontong di hampir seluruh penjuru Indonesia. Delapan puluh satu tahun silam, suami-istri Tjoa Pit Boen (Yunus Kartadinata) dan Tjoa Eng Nio mengawali cikal bakal Kecap Bango di rumah mereka di Benteng. Sayang, jejak awal sudah amat samar. Napak tilas Tempo di kawasan Benteng tak menemukan sarang pertama sang Bango.

3. Teh Botol Sosro

Google.com

“Apapun makanannya, minumnya Teh Botol Sosro” 

Menjadi sebuah tagline yang terkenal abadi, dan sangat melekat umumnya bagi hampir seluruh masyarakat Indonesia dari generasi tua hingga muda. 

Tagline adalah rangkaian kata yang merepresentasikan bagaimana sebuah produk akan diingat oleh konsumen, menjadi salah satu esensi terpenting dalam mengembangkan sebuah produk. 

Teh Botol Sosro diproduksi oleh PT Sinar Sosro. Di laman resminya, Sinar Sosro adalah perusahaan teh siap minum dalam kemasan botol yang pertama di Indonesia dan di dunia. Sejarah Teh Botol Sosro dimulai sejak tahun 1969 oleh keluarga Sosrodjojo. 

Dikutip dari situs Sinar Sosro, sejarah Teh Botol Sosro bergulir saat keluarga Sosrodjojo memulai usahanya tahun 1940 di Slawi, Jawa Tengah.
Pada saat memulai bisnisnya, produk yang dijual adalah teh kering dengan merek Teh Cap Botol. Daerah penyebarannya masih di seputar wilayah Jawa Tengah. 

Kemudian, pada 1960, Soegiharto Sosrodjojo dan saudara-saudaranya hijrah ke Jakarta untuk mengembangkan usaha keluarga Sosrodjojo kepada masyarakat di Jakarta. 

Di era pasca-kemerdekaan Indonesia, hadirnya merek-merek lain yang bermunculan, menambah deretan panjang produk lokal yang tidak kalah saing dengan produk luar. Bahkan, masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengetahui bahwa merek yang selama ini mereka kenal berasal dari luar negeri, ternyata merupakan produk Indonesia. Hal ini terjadi, kemungkinan karena penggunaan nama dari berbagai merek tersebut adalah bahasa asing. Sebagai informasi tambahan, berikut produk lokal yang mungkin hingga saat ini masih melekat sebagai produk asing dalam ingatan kamu. Contohnya, Terry Palmer, Silver Queen, Buccheri, J.CO Donuts, Polygon, Lea Jeans, Edward Forrer, The Executive, Make Over dan masih banyak lagi. 

Bersebrangan dengan nama-nama merek yang kami sebutkan diatas, banyak juga masyarakat Indonesia yang menduga bahwa merek-merek dengan bahasa Indonesia merupakan produk lokal, padahal merupakan produk asing. Diantaranya adalah Sepatu Bata, Informa, ACE Hardware, Giant Supermarket, Biskuit Khong Guan, Minyak Cap Lang, Permen Sugus dan masih banyak lagi. 

Kesalahan persepsi mengenai asal-muasal sebuah merek atau brand adalah buah pemikiran yang wajar. Karena, terdapat pergeseran konsep antara sebuah produsen dengan konsumen yang terjadi seiring dengan perkembangan zaman. 

Mengulang waktu saat dimana manusia belum mengenal kecanggihan teknologi sebuah internet, tidak sedikit terjadi kesulitan bagi seorang konsumen yang ingin mendapatkan informasi atau sekadar menyampaikan keluhan kepada pemilik merek, selain melalui sebuah layanan konsumen atau yang saat ini dikenal dengan istilah customer service atau call center. 

Menghadapi kenyataan bahwa tidak semua orang, khususnya di Indonesia, yang kedapatan memiliki akses telepon pribadi yang cukup memadai. Sehingga, terdapat tembok tinggi yang seakan-akan menjadi batas antara produsen dan konsumen dalam membangun sebuah interaksi. 

Faktanya, konsep berniaga pada zaman dahulu, terlihat jelas sangat berbeda jauh dengan yang kita rasakan di dewasa ini.
Siapa sih yang pernah menduga, kalau akan datang sebuah era digital yang bahkan bisa membuat kita saling berbalas cuitan dengan sebuah brand, seperti yang gencar terjadi di media sosial Twitter. Ini menjadi salah satu bukti, adanya pergeseran minat konsumen terhadap sebuah produk yang tengah terjadi pada generasi sekarang.

Perilaku Konsumen Di Generasi Baru Dan Sudut Pandang Mereka Terhadap Dunia 

Matoa-indonesia.com

Perkembangan produk Indonesia juga bisa disebabkan oleh generasi kini seperti milenial dan Gen Z yang bangga menggunakan barang-barang lokal, terlebih bagi sebuah brand dengan produk buatan tangan yang dikerjakan oleh pengrajin lokal Indonesia, menjadi daya pikat tersendiri karena terasa lebih eksklusif saat mereka kenakan. Meski tentu saja, barang bermerek pun masih diminati oleh sebagian milenial kelas menengah ke atas.

Namun karena peraturan pajak yang rumit, semakin banyak yang lebih memilih untuk membeli barang preloved atau bekas pakai untuk produk-produk bermerek. Bahkan, sekarang milenial merasa lebih keren saat menggunakan produk lokal, jadi lebih memilih produk Indonesia dibanding barang bermerek.

Alasan lain yang memperkuat pergeseran minat tersebut, juga ditengarai oleh “the power of influencers yang memiliki peran untuk memasarkan produk-produk dengan berbagai cara yang kreatif.
Saat melihat seorang influencer menggunakan produk lokal yang terlihat keren, banyak anak milenial yang terdorong untuk menggunakan produk lokal juga. Pada dasarnya, manusia memiliki rasa ingin tahu, terutama saat timbul keinginan untuk terus mengikuti tren.
Maka bukan sebuah keanehan lagi, bahwa generasi sekarang lebih suka memotret dan membagikan banyak hal di akun sosial media, seperti pakaian dan aksesoris apa yang sedang mereka kenakan, atau apapun aktivitas sehari-hari yang mereka lakukan.

Selain faktor eksternal, ada penjabaran yang bisa menjelaskan tentang perubahan minat konsumen terhadap brand-brand lokal Indonesia yang semakin diperhitungkan. Faktor-faktor ini menjelaskan tentang hasrat generasi manusia yang lahir di era baru.
Jika kamu termasuk generasi milenial dan Gen Z, mari simak penuturan dibawah ini dan coba telaah sendiri, apakah hasrat-hasrat dibawah ini benar sesuai dengan cara kamu dalam memandang dunia sekarang?

  1. Kemudahan (Convenience)

    Generasi milenial tumbuh pada era dimana kehidupan kita telah mulai dimanjakan oleh berbagai kemudahan. Yang menjadi aktor utamanya sudah jelas adalah internet. Segala macam hal bisa didapatkan dari internet. Dari sekedar informasi, berita, hiburan, makanan, rumah, hingga (bahkan) jodoh. Semuanya tersedia dan dengan mudah diperoleh dengan cepat, efisien dan saat itu juga (real time).

    Tidak heran bila bisnis pesan antar begitu mudah dan cepat tumbuh. Hampir semua jenis barang bisa dipesan dan segera diantar. Terutama makanan, pakaian dan barang kebutuhan sehari-hari. Jadi bila sebuah warung makan tidak memiliki pasukan pengantar pesanan atau tidak bergabung dengan aplikasi jasa pesan antar, akan sulit untuk beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat sekarang yang ingin serba praktis.

  2. Pilihan (Choices)

    Dahulu, kamu hanya bisa bertukar pesan dengan sangat terbatas, dari mulai surat hingga hadirnya teknologi handphone polyphonic yang hanya bisa melakukan panggilan seluler dan mengirim SMS.
    Saat ini, jangankan bertukar pesan, ada banyak sekali berbagai cara untuk berkomunikasi seperti video call yang memudahkan kamu untuk dapat melihat lawan bicara dari layar smartphone.

    Pun berlaku untuk hiburan, dimana dahulu hanya ada TVRI dan RRI. Kini lebih dari dua puluh stasiun TV swasta dan puluhan radio swasta di suatu kota berusaha sekuat tenaga untuk disimak. Itu yang gratisan. Masih ada saingannya dari TV kabel dan jaringan hiburan online seperti Netflix, YouTube, dan lainnya.

    Berbelanja pun begitu. Dalam satu lapak online, begitu banyak pilihan fashion dari brand-brand yang hadir dengan berbagai rancangan dan corak. Kemudahan berbelanja secara daring, bermanfaat juga untuk membandingkan harga. Kalau sudah ada yang cocok dan mau membayar? Pilihan cara, mekanisme dan lewat bank dan digital payment mana pun sudah ada di layar.

    Keragaman pilihan untuk berbagai hal ini yang membuat para milenial memiliki kendali. Sisi positifnya,hal Ini menjadi tantangan agar kita bisa lebih kreatif dan terus berinovasi.
  1. Pengalaman (Experience)

    Menceritakan sebuah pengalaman yang kita alami sendiri, itu hal biasa terjadi. Tapi sekarang, banyak sekali orang-orang yang seakan bisa turut nyata merasakan dan mendapatkan pengalaman, dari apa yang hanya ia lihat di sosial media.

    Saat menonton sebuah vlog, dimana seseorang yang sedang membagikan pengalaman saat berkunjung ke luar negeri, secara tidak langsung kita disuguhkan oleh visual dan suara yang ada di dalam video tersebut. Pada akhirnya, pengalaman yang terasa begitu nyata akan membawa kamu kepada pilihan untuk sekedar menikmatinya secara virtual atau terdorong untuk merealisasikannya agar menjadi seperti apa yang kamu lihat di media sosial.

    Ini juga berlaku untuk seseorang yang membagikan pengalaman mereka saat menggunakan sebuah barang. Pengaruh besar yang dibawa oleh seseorang yang memiliki pengikut yang cukup banyak di sosial media, dapat dengan mudah menggiring minat seseorang untuk menggunakan barang yang sama dengan idolanya. Contohnya: Seorang atlet yang merasakan pengalaman terbaik saat menggunakan sepatu dengan brand tertentu, membuahkan pikiran orang lain bahwa untuk menjadi atlet profesional, harus menggunakan produk yang sama, dengan harapan agar dapat memiliki pengalaman yang serupa.

  2. Sesuai Kemampuan Keuangan (Budget Friendly)

    Mari kita bandingkan antara di Amerika Serikat dengan di Indonesia. Di Amerika Serikat sebagian besar generasi milenial yang mulai berkarir masih memiliki hutang dari student loan. Student loan adalah tunjangan pelajar bagi pelajar Amerika yang ingin meneruskan pendidikan dari mulai college sampai yang lebih tinggi lagi. Menurut Wikipedia, dari 20 juta pelajar yang masuk college tiap tahunnya, sekitar 60% dari mereka mengambil tunjangan pelajar. Dan, tunjangan ini harus mereka lunasi. Karena itu, wajar saja jika setelah mulai bekerja, mereka membatasi pengeluaran mereka dengan ketat.

    Di Indonesia tidak dikenal student loan. Kalaupun ada, itu pasti hanya satu dua kasus saja dan bersifat pribadi. Pelajar dan mahasiswa ditanggung oleh orang tua. Masalahnya bagi milenial di Indonesia adalah kesempatan kerja dan biaya hidup yang semakin meningkat. Mereka yang baru lulus kesulitan mendapatkan kerja. Mereka yang baru masuk dunia kerja biasanya memperoleh gaji disekitaran upah minimum regional, yang selalu kejar-kejaran dengan harga-harga sembako. Ini yang membuat mereka begitu irit dalam hal keuangan.

    Memprihatinkan? Coba lihat ini. Lahirnya generasi irit ini memunculkan bisnis-bisnis irit pula. Kini, bepergian atau pun berwisata juga bisa irit. Penerbangan yang murah ada, hotel dan penginapan murah sudah banyak, restoran atau pun kafe yang terjangkau juga menjamur. Dari generasi irit ini pula mie instan dan kopi sachet naik kelas dan harga tersaji akhirnya jadi lebih tinggi. Ojek pun jadi lebih keren karena pakai seragam dan jadi lebih high-tech.

  3. Rasa Memiliki (Belonging)

    Generasi milenial memiliki rasa “Memiliki” yang tinggi. Artinya adalah generasi milenial itu melihat suatu merek tidak hanya dari fungsi, kegunaan dan hasil akhir dari produk atau jasanya saja, tetapi juga melihat nilai lebih dari merek tersebut. Mereka sangat peduli bagaimana proses produksi sebuah produk. Bagaimana bahan mentahnya didapatkan, proses pembuatannya, hingga cara antarnya. Dan, akhirnya,nilai tambah apa yang ditawarkan.

  4. Diakui (Recognition)

    Faktanya, para milenial suka pamer. Ini jelas terlihat dengan begitu “laris”-nya media sosial saat ini. Hampir semua milenial punya akun media sosial. Medsos jadi tempat paling mudah, murah dan cepat bagi siapa saja untuk unjuk diri. Baik itu unjuk kata-kata, unjuk foto juga video. Dari yang sangat halus seperti ungkapan kepedulian sampai yang terang-terangan pamer kekayaan.

Merespon “Bangga Buatan Indonesia”

Respon baik yang diberikan oleh masyarakat terhadap kemunculan brand lokal yang yang semakin menjamur, merupakan sebuah bukti bahwa hal ini tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Tapi, kamu juga perlu teliti dan berhati-hati dalam menilai sebuah produk, cari rekomendasi brand lokal yang memang berkualitas, terpercaya dan memiliki value. Bahkan saat ini, bukan hanya kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta atau Surabaya saja, yang berlomba untuk terjun dalam membuat sebuah brand, beberapa kota-kota kecil lain di Indonesia, turut serta membangun ekonomi kreatif dan mewujudkan mimpi untuk menjadi sebuah brand yang dikenal dengan kualitas dan integritas. 

Dan sebagai penduduk Indonesia yang mencintai tanah air, kita semua dapat mengamini mantra “bangga buatan Indonesia” menjadi sesuatu yang bukan hanya diucapkan secara verbal. Yang terpenting adalah bagaimana kamu dapat menjaga berbagai macam warisan budaya Indonesia sebaik mungkin dan mengaplikasikannya dalam hidup dan kehidupan sehari-hari.

Dengan menggunakan brand lokal, setidaknya kamu bisa membawa harum nama bangsa Indonesia sekaligus menampilkan hasta karya dan hasil kreasi tangan terampil yang layak untuk diketahui oleh kepada penduduk dalam negeri hingga ke mancanegara.

Find our products on