Waktu Adalah Kado Terbaik Sepanjang Masa

Google.com 

Bertambahnya umur adalah sesuatu yang mutlak dan pasti terjadi kepada setiap makhluk hidup, khususnya manusia. 

Seiring berjalannya waktu, kita sebagai manusia akan menjalani fase-fase kehidupan yang semakin meningkat dan semakin pula banyak kesulitan yang akan di hadapi, saat beranjak dewasa.

Perjalanan seorang manusia untuk sampai ke tahap dewasa akan sepaket juga dengan esensi kehidupan yang mengiringinya. Masalah, kesempatan dan pilihan menjadi tiga variabel yang akan menentukan bagaimana kehidupan kita di fase berikutnya. 

Setiap masalah yang bisa terselesaikan, akan memberikan kita pelajaran hidup. 

Setiap kesempatan yang datang, akan mendorong kita untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya dan setiap pilihan dengan masing-masing risiko juga akan menuntunmu untuk melangkah ke tempat baru.

Pilihan, mungkin menjadi salah satu esensi yang paling riskan, karena bisa membawa kamu ke satu tempat baru dimana itu bisa menjadi sangat mengerikan atau sebaliknya. 

Bagi sebagian orang, pilihan itu terkadang tidak bisa mereka dapatkan. Karena satu dan lain hal, seseorang bisa saja mendapati kehidupan yang ditentukan oleh seseorang yang lebih berkuasa atas dirinya. Sehingga ia tidak mampu untuk menjalani kehidupan yang benar-benar diinginkan. Maka dari itu, bersyukurlah untuk kamu yang hidup dengan banyak pilihan yang tersedia. 

Kami akan membahas lebih dalam tentang salah satu pilihan hidup yang tidak pernah habis menjadi topik terpopuler yang dibicarakan oleh setiap orang. Yakni, pilihan untuk menjalani sebuah pernikahan.

Tentukan Sendiri Pilihan Hidupmu!

Google.com 

Bicara tentang pilihan hidup, salah satunya adalah sebuah pernikahan.

Pernikahan merupakan cycle life yang didambakan oleh hampir setiap manusia dewasa. Namun di era modern ini, pernikahan bukan menjadi prioritas utama. Ada berbagai pertimbangan yang turut andil dalam mempengaruhi keputusan seseorang dalam memilih untuk melangsungkan atau menunda sebuah pernikahan. Fenomena ini menjadi hal yang menarik untuk diteliti mengenai keputusan seseorang dalam menentukan hidupnya untuk sebuah pernikahan. Terdapat sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa ada beberapa informan yang memiliki berbagai pertimbangan untuk melakukan penundaan usia pernikahannya, antara lain: pendidikan, pekerjaan, pemilihan pasangan, dan kesiapan diri. Untuk yang memilih melangsungkan pernikahan, pertimbangannya antara lain: usia yang sudah cukup produktif, menemukan pasangan hidup yang tepat, kesiapan finansial, peraturan agama, keluarga dan adat istiadat, serta keinginan untuk memiliki keturunan. Meskipun ada banyak faktor-faktor lain, baik internal maupun eksternal, pernikahan sejatinya harus merupakan keputusan yang diambil oleh kedua belah pihak yang akan menjalaninya, bukan karena sebuah paksaan atau sebuah solusi dari berbagai kondisi yang sebetulnya tidak relevan.

Nyatanya, masyarakat Indonesia masih sangat sulit menerima pilihan seseorang yang menunda sebuah pernikahan, kaitannya sangat erat dengan stigma sosial dan berbagai macam label seperti “perawan tua dan tak laku” untuk seorang perempuan dan “bujang lapuk” untuk seorang laki-laki.

Tentu, ini sangat berakibat pada kehidupan sosial siapapun yang mengalaminya. 

Meskipun demikian, kita sebagai seseorang yang juga tidak kebal dengan stigma masyarakat, ada baiknya kita memberi sebuah dukungan. Sehingga hal tersebut membuat kita semua menjadi nyaman dalam menjalani kehidupan. Karena, tidak ada satupun yang dapat menggeneralisasi sebuah pernikahan adalah sesuatu yang buruk. Banyak juga manfaat yang bisa kamu dapatkan dari sebuah ikatan sakral antara kamu dan pasangan kamu. Jadi, pilihan untuk menikah atau tidak, akan lebih baik jika kita dapat turut berbahagia untuk apapun pilihan hidup seseorang. 

Bagi kamu yang memilih untuk menikah, yuk simak beberapa tips dalam mempersiapkan diri dan pasangan sebelum melanjutkan hidup dalam ikatan yang lebih serius!

Jangan Menikah Sebelum Mempersiapkan Hal-Hal Penting Berikut Ini

  1. Berdiri Di Kaki Sendiri 

Soal memantapkan hati bukan lagi harus dipermasalahkan karena kamu akan segera menikah. Kamu pasti telah memiliki pemikiran yang matang sebagai seseorang yang telah dewasa. Tapi, ini adalah soal bagaimana kamu bisa mengandalkan diri sendiri. Meski memiliki kelak memiliki suami yang akan bertanggung jawab untuk keluarga, kamu tak boleh bergantung sepenuhnya padanya. Bahkan jika kalian harus berjauhan karena urusan pekerjaan, kamu harus bisa mengandalkan diri sendiri. Tanpa kamu sadari, ini adalah bukti nyata bahwa kamu sudah bisa mencintai diri sendiri.

  1. Simulasikan Hidup Bersama 

Wah, jangan terburu berpikir negatif ya tentang ini. Bukan berarti kalian harus menghabiskan beberapa hari bersama. Simulasi ini bisa dilakukan dengan mengerjakan pekerjaan rumah bersama, misalnya memasak, membersihkan rumah, dan pekerjaan rumah lainnya. Jika kalian dapat mengerjakannya dengan baik, maka pantas sudah hidup dalam satu atap dengan sah.

  1. Menerima Perubahan Mental Dan Fisik Pasangan

Ini cukup penting karena kamu akan hidup dengan seseorang yang tak hanya 1 atau 2 tahun, bisa jadi akan selamanya. Coba bayangkan dia dalam 20 tahun atau 30 tahun lagi. Dia jelas bukan orang yang sama baik secara mental dan fisik, jika sekarang dia cukup keras kepala maka 10 atau 20 tahun lagi dia akan lebih keras kepala. Jika sekarang dia teledor, 30 tahun lagi mungkin dia akan semakin pelupa. Perubahan fisik juga pasti terjadi seiring bertambahnya usia dan berbagai kondisi yang membuat kamu dan pasangan tidak akan sama seperti dahulu. Lantas, apa sudah kamu sudah siapkan? Coba bayangkan dulu dan pikirkan dengan matang.

  1. Mendekatkan Diri Dengan Keluarga Pasangan 

Menikah tak melulu tentang mencintai sang suami atau istri, tapi paket komplit dengan keluarganya. Menjadikan keluarganya sebagai keluargamu juga. Pastikan kamu bisa beradaptasi dengan lingkungan keluarganya. Tak cukup dengan hanya berkenalan, tapi juga berkomunikasi dengan baik dan menunjukkan tata krama dan sopan santun yang baik pada mereka. Biar bagaimanapun, mereka juga akan menjadi bagian dari keluarga kecil kalian.

  1. Menghadapi Waktu-Waktu Tersulit

Hal-hal berat dalam hidup juga tak luput dari perhatian, soal kematian, kelahiran, dan kehilangan pekerjaan misalnya. Kalian dituntut berada dalam posisi yang tidak menyenangkan sama sekali. Bagaimana kalian dapat mengatasi itu bersama, juga patut dipertimbangkan. Siapa yang lebih bisa mengalah, siapa yang lebih bisa menenangkan, harus mulai dipikirkan sejak sekarang agar segala masalah nantinya bisa diselesaikan dengan baik.

  1. Bersiap Dengan Perubahan Hidup 

Kamu tidak bisa hanya mementingkan diri sendiri, karena pernikahan bukan hanya untuk satu orang tapi dua orang. Segala sesuatunya harus dikomunikasikan. Ini yang akan sedikit demi sedikit merubah kamu menjadi pribadi yang mungkin akan lebih toleran. Kamu harus bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan jika ini tidak berjalan dengan baik, pertengkaran-pertengkaran kecil akan mulai terjadi.

  1. Tabiat Buruk Pasangan

Seperti sebelumnya, beradaptasi dengan pasangan adalah sebuah keharusan. Terlebih pada kebiasaan yang menjengkelkan. Kebiasaan yang selama ini tertutup saat pacaran akan keluar dengan sendirinya. Misalnya, tidak menaruh piring kotor pada tempatnya ketika selesai makan, mandi hanya jika diingatkan, sembarangan menaruh pakaian kotor, kentut sembarangan, atau mendengkur sangat keras ketika tidur. Banyak-banyak sabar deh kalau memang begitu! 

  1. Berbagi Dalam Segala Hal 

Jangan menanggung semua sendiri dan menyelesaikan sendiri. Ini bukan bicara tentang sebuah kemandirian, tapi lebih pada menghargai satu sama lain. Menikah tidak hanya sebatas hidup dalam satu rumah, kalian juga akan berbagi kesusahan dan kesenangan bersama-sama. Dengan melibatkan pasangan, itu akan membuat dia dan kamu sama-sama merasa dihargai dalam setiap keputusan yang diambil bersama.

  1. Kesepakatan Tentang Memiliki Keturunan Dan Pola Asuh Yang Kooperatif

Setiap pasangan memang berbeda-beda, ada yang ingin membahas masalah anak setelah menikah dan ada pula yang mendiskusikannya sebelum menikah. Tapi, sejak awal kamu dan pasangan harus benar-benar satu suara, untuk mengambil keputusan akan memiliki anak atau mengusung konsep child-free seperti yang tengah banyak dibicarakan oleh orang-orang saat ini. Jika memilih untuk memiliki 1 anak atau lebih, ini harus benar-benar dikomunikasikan dan direncanakan dengan baik, karena akan berkaitan dengan banyak hal, seperti tujuan utama kalian mengapa ingin memiliki anak, pola asuh yang akan kalian terapkan selama membesarkannya, menyesuaikan finansial jangka panjang untuk berbagai kewajiban yang harus kalian penuhi, serta berbagai situasi dan kondisi yang mungkin secara tidak terduga akan terjadi. Faktor eksternal pun harus turut dipikirkan, misalnya jumlah cuti melahirkan yang diberikan perusahaan, asuransi, pendidikan, dan kesehatan.

  1. Transparansi Keuangan Dalam Rumah Tangga

Urusan yang satu ini memang cukup sensitif. Ada beberapa pasangan yang salah satu dari mereka memiliki aset yang lebih banyak dan enggan berbagi dengan pasangannya. Ada pula yang memilih untuk membuat perjanjian pra nikah untuk memisahkan harta mereka. Itu semua kembali ke pilihan masing-masing. Namun, sebaiknya kamu dan dia punya satu solusi yang tepat untuk soal yang satu ini.

Bagaimana? sudah makin mantap untuk ke jenjang selanjutnya? Atau merasa masih ada beberapa hal yang harus lebih dipersiapkan? Ingatlah untuk tidak hanya memikirkannya sendiri, tapi ajaklah pasanganmu untuk sama-sama memikirkan 10 hal diatas dan memasuki gerbang pernikahan yang sebentar lagi dengan persiapan yang matang.

Pilihan Untuk Tetap Melajang Itu Tidak Apa-Apa

Google.com 

Memiliki pilihan yang berbeda dengan kebanyakan orang memang penuh risiko. Bagi seseorang yang memutuskan untuk tidak menikah, tidak pernah sekalipun orang membiarkan topik itu berlalu dengan sederhana. Selalu sukses mengundang tanya. Kenapa, kenapa, dan kenapa? Seolah, pilihan yang diambil ini bisa mempengaruhi kondisi dunia. Padahal, hanya menolak pernikahan untuk diri sendiri, bukan melarang orang lain melakukannya.

Selain karena sebuah alasan mandiri, ada orang yang tidak terlalu berminat merasakan pahit-manisnya orang berpacaran apalagi sampai menikah, banyak yang mengira seseorang dengan keputusan tersebut, karena masa lalunya yang pernah disakiti oleh cinta di masa lalu. Atau dituding terlalu pemilih ketika mencari pasangan. Padahal alasan itu ada banyak dan tidak selalu begitu.

Masa lalu memang punya peran untuk membentuk pribadi kita yang sekarang.  Tapi, kalau merancang masa depan hanya atas dasar kepahitan masa lalu, sungguh disayangkan. Harapan di masa depan terlalu berharga untuk dihalangi bayangan masa lalu. Dari pada fokus ke masa lalu yang sebenarnya juga baik-baik saja, lebih baik memilih menyusun masa depan sesuai dengan kapasitas yang kamu punya.

Dalam problematika ini, terkadang kita juga setuju akan satu hal yang dikagumi dari mereka yang menikah dan juga bekerja. Mereka mampu menyeimbangkan waktu keduanya. Bagi sebagian orang, mungkin butuh fokus yang tinggi dan waktu yang banyak untuk mencapai target-target yang sudah tersusun. Seperti berbagai proyek pekerjaan dan melakukan kegiatan sosial. Kalau harus membagi waktu dengan hal lain lagi, target itu tidak akan tercapai dengan maksimal. Dari situlah, alasan lain bisa timbul hingga keputusan untuk tidak menikah menjadi semakin diyakini. 

Hal lain yang juga terkadang memberatkan orang-orang yang kontra dengan pernikahan adalah sebuah rasa kehilangan yang menjadi sangat lekat, karena teman-teman terdekat dan lingkungan sekitar yang memilih untuk menikah atau sedang menuju kesana. Jangan khawatir, penjelasan dibawah ini mungkin akan membukakan mata dan pikiran kamu, agar tidak pesimis terhadap sesuatu yang sebenarnya belum tentu terjadi atau sangat bisa untuk diatasi.

Kado Terbaik Sepanjang Masa 

Google.com 

Untuk kamu yang sedang dilema atau sudah menentukan pilihan untuk tidak menikah. Kamu tidak perlu cemas atau overthinking soal penilaian apa yang akan orang lain katakan tentang kamu. Masih banyak hal bermanfaat yang bisa kamu lakukan, selama itu adalah keputusan yang kamu ambil sendiri tanpa paksaan dari orang lain. 

Hindari perasaan minder dan berkecil hati, hanya karena melihat lingkungan sekitarmu yang kebanyakan sudah menikah atau akan melangsungkan pernikahan, kamu bisa terus menjadi teman baik bagi mereka yang sudah memiliki kehidupan bersama pasangannya dengan berbagai cara. Jangan pernah merasa takut akan kehilangan teman yang terbiasa bersama denganmu, akibat pilihannya untuk menikah. 

Luangkan waktu untuk saling bertemu atau menyapa lewat pesan teks dan telepon. Terkadang, untuk dapat mengawali hari baik, cukup dengan perhatian kecil dari seseorang yang menanyakan kabar. Selain itu, kamu juga bisa memberi perhatian kecil saat momen-momen spesialnya. 

Ada banyak sekali pilihan untuk menghadiahi seseorang, agar hubungan kalian tidak memudar hingga akhirnya menjadi tenggelam karena kesibukan masing-masing. Kamu bisa memberikan sesuatu yang erat kaitannya dengan momen kebersamaan kalian yang secara tidak langsung dapat terkenang kembali melalui barang tersebut.

Rekomendasi hadiah yang kami sarankan untuk kamu, adalah sebuah jam tangan.  Secara harfiah jam adalah sebuah benda penanda waktu, namun aksesoris ini bisa kamu interpretasikan sebagai cara kamu dan mereka agar bisa tetap mengingat waktu-waktu terbaik saat kalian bersama. Kamu bisa memberikannya jam tangan MATOA, salah satu produk lokal berbahan kayu yang memiliki fitur engrave, dimana kamu bisa menuliskan sebuah kata dibalik jam tersebut, untuk menambahkan kesan yang bermakna dan menjadikan hadiahnya sebagai benda yang sangat personal. Selain memiliki nilai yang sangat sentimental, kado pernikahan untuk teman seperti jam tangan kayu,  bisa menjadi hadiah yang sangat unik dan tidak mainstream dengan hadiah-hadiah yang biasa diberikan kepada seseorang di momen spesial. Menjadikan kamu seseorang yang paling diingat, karena jam tangan adalah salah satu aksesoris yang hampir tidak pernah lupa untuk dipakai dan selalu melekat pada tangan. Jam tangan Matoa juga sangat fleksibel dan memiliki warna yang dapat disesuaikan dengan apapun jenis pakaian, dalam berbagai kesempatan yang bersifat casual ataupun formal.

Kesimpulannya, sebuah pernikahan mutlaknya adalah pilihan. Apapun alasan yang kamu dan orang lain yakini sebagai faktor x dalam menentukan keputusan untuk menjalani hidup, kita semua berkewajiban untuk menghormati segala bentuk perbedaan. Yang terpenting saat ini, jangan sampai memutus segala bentuk hubungan yang sudah kamu bangun selama ini, hanya karena perbedaan cara pandang tentang kehidupan. Sayang sekali rasanya menghabiskan waktu yang sangat singkat dan terbatas ini, dengan menimbun perasaan yang berkonotasi negatif. 

Ada sebuah kebenaran yang perlu kamu ingat bahwa, denting waktu adalah bunyi yang mengintimidasi manusia agar terus melakukan hal yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Tidak ada kerugian bagi siapapun yang mempergunakan waktunya dengan bijak dan menjadi pribadi yang produktif, sehingga tidak ada satu detik pun waktu yang terbuang dengan sia-sia.

Waktu adalah kado terbaik sepanjang masa!

Find our products on